Sabtu, 09 April 2011

Gadis Pinokio

"Apa kabar, Sai?", kata Tira sambil menjabat tangan teman lamanya itu.
"Baik," Perisai menjawab sambil tersenyum manis.
Kok si Perisai kelihatan berbeda, ya? Tira membatin.

***
"Aku malu, Tira. Huhuhu," Perisai menangis tersedu-sedu.
"Ssshhh, kamu jangan nangis dong, Risa," Tira agak panik juga. Takut ketahuan Bu Gina, guru kelas mereka. Tira juga takut kalau dirinya akan dituduh menjadi penyebab sahabatnya menangis.
"Kamu cantik, Tira. Aku enggak. Huhuhu."
"Ssshhh. Kamu juga cantik. Cantik, Risa! Si Doni dan Kudit itu emang nakal. Nanti aku laporin Bu Gina, ya?"
"Jangan! Emang mereka benar. Aku jelek. Hidungku ada 'e'enya. Huhuhu. Aku jelek! Jelek! Aku gak suka hidungku! Aku alieeeenn. Aku makhluk luar angkasaaaaa!" tangis Perisai malah makin menjadi-jadi.
Tira mengusap-usap punggung Perisai yang masih menangis.
Tira tidak pernah berpendapat bahwa teman sebangkunya itu tidak cantik, apalagi jelek. Perisai lucu. Mukanya unik kayak boneka. Matanya besar, hidungnya mancung, dan yang membuat Perisai berbeda adalah tahi lalat besar persis di cuping hidungnya. Dasar si Doni dan Kudit jahil, mereka suka sekali mengejek Perisai dengan sebutan hidung 'e'e. Padahal itu bukan 'e'e. Itu tahi lalat! Tapi tetap saja Doni dan Kudit bilang tahi itu kan 'e'e.
***
Sehabis lulus sekolah dasar, Perisai pindah ke Palembang. Sejak saat itu, Tira tidak pernah mendengar tentang Perisai lagi. Sampai tiba-tiba Perisai muncul di televisi sebagai finalis Puteri Negara Indonesia. Tira kaget dan senang dibuatnya. Lalu ia pun mengirimkan sms sebanyak-banyaknya untuk mendukung sahabatnya itu untuk menjadi Puteri Negara favorit.
Waktu jua yang mempertemukan kembali kedua sahabat itu. Mereka bertemu dalam pernikahan Revalina, teman kuliah Tira, juga teman main sinetron Perisai.
***
Tira mengamati wajah Perisai dari kejauhan. Apa ya? Apa ya? Apa ya, yang beda? Batinnya bertanya-tanya.
"Kenapa, lo, Ra?", Radit, sepupunya yang menemani Tira ke pesta pernikahan ini, menangkap kegelisahan Tira.
"Enggak, kayaknya ada yang aneh sama dia tuh," Tira mengarahkan tangannya pada Perisai.
"Lo nggak usah sirik gitu lah sama teman sendiri. Kalo lo pengen jadi artis juga, ya bilang sana sama teman lo itu. Kali aja dia bisa ngenalin lo sama sutradara siapa gitu," mata Radit masih tak lepas dari salad buahnya.
Artis? Apa Perisai jadi berbeda karena dia sudah jadi pemain sinetron dan pacaran sama sesama pesinetron juga? Rasanya enggak mungkin ah. Dia gak sombong kok. Canggung sedikit, ya wajarlah, namanya juga lama gak ketemu.
"Gue paling suka sama film terakhir dia itu, Ra. Judulnya apa tuh? Gue lupa," Radit berpikir sejenak, "gue inget! "Gadis Pinokio" judulnya. Dia lucu banget ya. Natural gitu mainnya. Duh, makin kesengsem gue, Ra."
Tira membenarkan dalam hati. Perisai sampai mendapatkan penghargaan gara-gara aktingnya keren di film itu. Di film garapan sutradara terkenal Rudi Sutaryo itu, Perisai berperan sebagai gadis yang tidak sengaja menemukan boneka Pinokio, boneka berhidung panjang.
Hidung panjang..hidung? AHA! Tira tahu sekarang apa yang berbeda dengan sahabat masa kecilnya itu. Hidung! Hidung!
Tira berjalan meninggalkan Radit sendirian. Ia akan menemui sahabatnya. Ia harus menanyakan bagaimana tahi lalat besar di hidung sahabatnya itu kini bisa hilang!

Maret-2011


* Diajukan untuk memenuhi syarat dalam Klub Menulis "Writing Session". Tulisan yang lainnya bisa dilihat di sini.

Menu Suram

Praaang!!
Menu makan pagiku selalu sama: ayah dan ibu bertengkar. Mendengarnya, aku cuma bisa menangis diam-diam di teras depan rumah sembari menunggu jemputan sekolahku datang.

Tin, tin!
Ah, Pak Gun datang! Aku berlari ke pelukannya. Huhuhu. "Semuanya akan baik-baik saja. Pak Gun janji. Sudah ya, nangisnya!" Setelah itu, kutemui teman-teman sekolahku dengan senyuman, kuhadapi pelajaran-pelajaran di sekolah dengan antusias. Aku bahagia sekali berada di sekolah. Namun semuanya akan berubah jika waktu petang datang...

Kreeek!
Aku membuka pintu rumah pelan-pelan. Tuh kan, betul, Ibu pasti sedang menangis di ruang makan. "Ibu....", aku cuma bisa memeluk Ibu. "Ayah pukul Ibu lagi yah?". Tangis Ibu makin kencang. Oh Tuhan, jangan! Jangan kau jadikan Ibuku tersakiti. Aku sayang Ibu. Biarlah aku saja yang menderita. Ibu tidak boleh, Tuhan, Ibu tidak boleh menderita.

Kutuntun Ibu ke kamarnya, memastikan Ibu sudah makan dan sholat, dan kupijiti badan Ibu dengan sayang. Oh, badan Ibu kurus sekali. Huhuhu.

"Cukup, Nak! Kau tidurlah, Ibu sudah baikan!" Aku pun mengecup kening Ibu lalu menyelimutinya.
Kuhabiskan cepat-cepat makan malamku, lalu membersihkan diri sebelum ia datang. Kulihat jam dinding...jam sembilan! Tapi dia belum datang. Segera kuambil buku-buku pelajaranku. Aku akan mengulang pelajaran untuk besok. Matematika, sudah. IPA, sudah, Agama.....

Dwang!!!
Ayah menendang pintu kamarku. Ah, dia datang! Kusingkirkan buku-bukuku sebisanya. Segera kulepaskan semua yang melekat di tubuhku dengan cepat.

"Sudah pintar kau rupanya", ayah tiriku itu menyeringai licik.

Kubalas seringainya dengan doa. Tuhan, maafkan aku, aku cuma tidak mau Ibu disiksa kalau ku menolak. Sampaikan salamku pada Papa di langit, Tuhan, aku rindu.

Dia mulai mendekatiku. Aku balas berlari menghampirinya. Ini karena aku bosan, dan cuma ingin menyelesaikan 'menu' malam ini secepat-cepatnya.

Maret-2011


* Diajukan untuk memenuhi syarat dalam Klub Menulis "Writing Session". Tulisan yang lainnya bisa dilihat di sini.

Edaran Baru

Hollaaaa..
Ya, betul, lama nian kita inda' basuo.
Ya ini dikarenakan satu dan lain hal, sebulan ini saya kurang beredar di sini.
Adapun orbit peredaran saya yang baru, yakni:
  1. Twitter: @alavyashofa
Ya! Saya kini resmi memiliki penambahan nama belakang. Saya memiliki marga, yakni marga "T." alias marga Twitter. Hehe.

2. Klub menulis "Writing Session Club": @writingsession
Saya baru beredar dua kali di sini. Mudah-mudahan nanti bisa lebih rajin lagi ya.



Ya, saya janji sekarang, esok, dan seterusnya akan lebih rajin lagi beredar di sini. Saya akan berusaha adil dalam melakukan peredaran di beberapa orbit yang saya miliki.
Baiklah, selamat beredar, tuips (tuh kan, saya jadi salah sebut nama). Saya ralat ya: Selamat beredar, pemirsa! Hehe..


Oh-ya, lalu dimanakah kamu wahai para pemirsa? Bolehlah kita kapan-kapan beredar bersama. Kalau kita berpapasan di dalam orbit yang sama, bolehlah kita saling bertegur senyum-sapa.


Salam :)



Jumat, 04 Maret 2011

Asyiknya mengumpat

Mengumpat #1
Kerudung kuning sama kamu yah?
Gak tahu ih.. *defense*
Kemarin kan dipake sama kamu, sekarang disimpen dimana?
Gak tahu atuh ih, da lupa.
Anggeur! Pohoan! Dasar budak teh. Juladeur!

Mengumpat #2
Ambilin mangkok plastik nih, buat sayur.
Nih!
Piraku sayur mau disimpen ke mangkuk plastik buat agar-agar?! Dasar peuleu!


Mengumpat #3
Jkhfihfihfushfuishfishfis

Keopritiushfhdhaohdis

Belegug!



Suatu kali…

Kenapa yah, ngehina teh enakeun.

Cuman dua atau tiga suku kata. Peuleu. Juladeur. Belegug. Tapi meni asa mewakili perasaan. Bray…
*mama saya ketawa. Tersindir. Pun terbenarkan. *

Umpatan yang lebih saya sukai

Selasa, 01 Maret 2011

BYTD-BYSSD

Bekerja pada BYSSD, pada kondisi tertentu, dapat menimbulkan kondisi stress. Sedangkan bekerja pada BYTD*, belum apa-apa, sudah membuat agak stres. Pada kondisi yang lebih jauh, ini akan menimbulkan kondisi yang agak sangat-stres-banget.

Kemungkinan stress pada BYSSD ditimbulkan dari adanya tekanan (dari dalam diri) untuk mencapai prestasi tertentu (baca: tinggi). Selain itu, mungkin juga timbul karena adanya hal-hal konteks (bukan inti) yang menimbulkan ketidaknyamanan. Misalnya, rekan kerja pada BYSSD, fasilitas yang kurang mendukung pada BYSSD. Bayangkan kita berada pada BYTD. Jangankan untuk berprestasi, untuk bertahan saja sangat sulit slash menguras energi, padahal hasil kerja belum seberapa. Fuhhh...

Secara konotatif, dapat dikatakan:

* Stress pada BYSSD (mungkin) muncul karena adanya keinginan kita untuk terbang tinggi-lepas-bebas-ke-angkasa.

* Stress pada BYTD (sangat mungkin) muncul bahkan hanya untuk menjejakkan kaki untuk berdiri.

Jadi, marilah-kemari! Kita mengejar P!

BYTD is...? BYSSD is...?


Apakah P? Lihat di sini.

Selasa, 22 Februari 2011

Manfaat Sampah

pertama-tama..

Orang-orang berjumlah -mungkin- 10 sudah duduk membentuk sebuah lingkaran. Agak penyok, tidak sempurna lingkarannya. Saya bersyukur tidak ada jenazah di tengah-tengahnya. Itu berarti mereka tidak sedang berduka. Pun saya agak kecewa karena ternyata tidak ada nasi-tumpeng-yang-mungkin-ada-dibagi-bagikan-gratis di tengah-tengah mereka. Ah, perut, sabar ya...

Secara kikuk, saya duduk-bergabung dalam lingkaran penyok itu. Kalau ini betul-betul acara layatan, mungkin saya sudah mengambil satu dari tumpukan Qur'an yang ada dan membacakan Yasin atau apa lah. Sementara kalau ini kenduri, tentu saya sudah menyodorkan mulut saya untuk menerima suapan pertama nasi tumpeng.

Tapi itu tidak. Tapi tidak begitu.

Saya bilang ini bukan acara peribadatan. Jadi relatif tidak ada nuansa keagamaan di sini. Meskipun begitu, saya ambil wudhu dan sholat dulu tanpa paksaan. Bisa jadi supaya acara lancar, dan peredaran dara, ide juga inspirasi juga ikut mengalir lancar.

Saya ingat ketika teman saya tadi setengah membisikkan sesuatu tentang garis besar acara kali ini. Oh. saya pun menerka-nerka apa yang akan saya tuangkan. Oooh, mungkin ketika saya pertama kali naik sepeda? Oh, atau mungkin, pertama kali naik ATV? Atau memakai high heels? Naik motor? Kenapa harus mengenai "menggunakan
sesuatu benda" ya? Padahal tadi saya setengah mengintip punya teman saya, katanya "pengalaman pertama bekerja". Lalu apa, ya? Mengenai apa ya?
Menyoal "mengapa-yang-akan-saya-tuangkan-mengenai-benda-benda-saja"? Apa saya menganut hem...animisme, dianmisme, apa tuh, yang menaruh kepercayaan kepada benda-benda seumpama pohon dan binatang? Teman saya bilang itu paganisme. Tapi saya kira bukan. saya bukan menyembah benda-benda. Saya tidak menyembah berhala.

Saya pun mengambil alat tulis, mulai menulis. Apakah saya menulis tentang pengalaman pertama masuk ke komunitas lingkaran penyok ini saya ya? Ah, sepertinya itu bukan ide bagus. Sudahlah, saya berhenti menulis saja. Mungkin saya sebetulnya tidak ada bakat menulis seperti teman-teman di lingkaran penyok ini. Ah, sudah ah!!
*Diajukan untuk memenuhi syarat berkumpul dalam Komunitas RLWC (Reading Lights Writers Circle)